Media layar jadi buah simalakama bagi orangtua. Di satu sisi, teve, gawai, komputer, video game memang dapat membuat anak terpaku dan tenang selama berjam-jam. Namun, di sisi lain “sihirannya” dapat membuat anak terpuruk dalam kecanduan.

Baca juga : Kerja di Jerman

“Hai, apa kabar? Lila hampir 3 udah tahun ya sekarang. Gimana repot ga?” “Repot banget, apalagi di rumah sendiri. Suami kerja, gak ada pembantu. Gimana nyiasatinya? Ajarin dong, kan sudah lebih pengalaman.” “Gampang,ditontoninteve aja. Anakku betah diem pas nonton, bisa ditinggal nyuci, masak, beberes. Dua tiga jam bisa anteng. Kalo enggak ada teve, ikut gangguin, kerjaan enggak selesai-selesai.” Mungkin pengalaman Mama Lila dan tip yang diberikan padanya banyak dialami mama lain.

Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain. Sebuah survei berskala nasional pernah diselenggarakan di 10 negara bagian USA pada 2003, hasilnya menunjukkan bahwa anak usia dini (0—6 tahun) rata-rata menghabiskan waktu 1 jam 58 menit sampai 2 jam 5 menit menonton media layar (teve, komputer, video game). Terbanyak adalah teve. Data tersebut adalah data 10 tahun lalu dimana gawai (tablet, smartphone, dll.) belum sebooming sekarang. Seandainya dilakukan survei ulang, kemungkinan waktu rata-rata yang dihabiskan anak usia dini untuk menonton media layar bisa saja meningkat tajam. Bagaimana dengan di Indonesia?

Survei sederhana terhadap beberapa fanpage member Facebook tabloid nakita, menunjukkan ratarata anak batita dibiarkan menonton selama 3,5 jam. sehari oleh mamanya. Benarkah izin menonton atau main game dikeluarkan agar para mama bisa beraktivitas? Menurut Mama Rini, ia sering memasak sambil mengawasi anaknya, Dewang (4), menonton saluran Nat Geo Kids. “Lumayanlah, karena selama Dewang menonton televisi, saya jadi bisa berkegiatan yang lain.” Pengalaman Mama Della lain lagi. Menurutnya, kalau ia mematikan teve, buah hatinya, Keanu (4), akan protes meski sudah ada perjanjian bahwa Keanu hanya boleh menonton 1 jam di siang hari dan 1 jam di sore hari. “Dia pasti cemberut lalu menangis.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *