Yang Tekor Setelah Teror Bag3

Dia kemudian dirawat jalan selama hampir setahun. Semua biaya pengobatan ditanggung Ausaid, lembaga milik pemerintah Australia. ”Tak ada bantuan sama sekali dari pemerintah Indonesia,” kata Sucipto, Selasa pekan lalu. Awal bulan lalu, Sucipto kembali merasakan sakit hebat di belakang kepalanya. Rasa nyeri itu memaksa dia kembali ke rumah sakit. ”Beruntung ada asuransi kesehatan dari kantor,” ujar Sucipto, yang kini menjadi Ketua Yayasan Penyintas Indonesia—yang menaungi korban teror bom. Nasib Dwi Siti Romdhoni, korban bom di Jalan Thamrin, Jakarta, tidak lebih baik.

Ketika bom meledak, 14 Januari lalu, Dwi baru selesai menemui klien di gerai kopi Starbucks. Terjatuh, Dwi menderita sakit berkepanjangan di bagian belakang kepalanya. Ia pernah dirawat di Rumah Sakit Permata Hijau dan Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, selama sekitar sebulan. Tapi nyeri di belakang kepalanya tak benar-benar hilang. Trauma akibat bom Thamrin pun masih menghantui Dwi. Bagian dari terapi pemulihan psikologis, dua kali Dwi ke Starbucks bersama korban bom lainnya. ”Di sana saya selalu gelisah. Saya sering menengok kiri-kanan dan melirik ke arah pintu,” katanya. Untuk biaya pengobatan, Dwi sebelumnya tak perlu merogoh kocek sendiri.

Soalnya dia termasuk yang direkomendasikan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mendapat layanan gratis di rumah sakit. Namun program LPSK itu berakhir awal November lalu. Ketika sakit di kepalanya menghebat pada pertengahan November lalu, Dwi berusaha mengurus kartu BPJS Kesehatan. Melihat antrean yang selalu panjang, ia mengurungkan niatnya. Dia memilih berobat ke dukun pijat dengan uang sendiri. ”Sebagai korban teror, kami sama sekali tak diberi kemudahan,” ujar Dwi. Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai membenarkan kabar bahwa program bantuan biaya perawatan berhenti sejak November lalu. ”Anggaran di LPSK telah habis,” katanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *