Terbukti Aman untuk Mama dan Janin

sat-jakarta.com – Sejumlah penelitian memberikan pembuktian, puasa Ramadan yang dilakukan oleh ibu hamil tidak akan memberikan efek yang buruk pada janin, pada sisi pertumbuhan dan kesehatan janin ataupun kecerdasannya. Bahkan, berpuasa pada waktu hamil juga tidak akan mengakibatkan kelahiran secara prematur. Inilah beberapa hasil dari penelitian tersebut:

Baca juga : kursus IELTS terbaik di Jakarta

  • Penelitian Kavehmanesh dkk., Saleh, Ozturk dkk., serta penelitian yang dilakukan di Malaysia terhadap sebanyak 605 ibu hamil yang berpuasa menunjukkan tidak ada efek pada berat badan si mama dan berat badan bayi baru lahir. • Pada Gambaran kardiotokografi yang menunjukan pada catatan gerakan janin serta denyut jantung memperlihatkan hasil yang non reaktif pada waktu fase puasa, namun kembali reaktif pada waktu berbuka puasa. Penelitian lainnya memberikan bukti, ibu hamil yang melakukan puasa tidak memiliki efek pada prematuritas dan skor apgar bayi baru lahir.
  • Penelitian yang dilakukan oleh Azizi dkk. berkesimpulan, melakukan puasa selama bulan Ramadan yang dilakukan ibu hamil tidak memberikan efek pada kecerdasan (IQ) anak pada waktu kelak dewasa. • Penelitian yang dilakukan Dikensoy dkk. menyimpulkan, melakukan puasa pada waktu Ramadan tidak akan memberikan efek pada kesehatan dan pertumbuhan janin, serta tidak akan mengakibatkan ketonemia (suatu kondisi berbahaya yang dapat mematikan).

Tidak Ada Komplikasi

Namun perlu dipahami, dari sisi medis, tidak semua mamil boleh berpuasa selama Ramadan. Sekali lagi, agama pun mengizinkan mamil tidak berpuasa. Pertimbangannya, kehamilan mungkin saja membuat kondisi Mama jadi lemah. Banyak, kan, mamil yang meng alami mual-muntah di trimester 1 atau merasakan ketidak nyamanan luar biasa karena janin mulai besar? Jadi, jika memang Mama tidak kuat untuk melakukan puasa, kondisi badan tidak memungkinkan, alangkah baiknya untuk tidak memaksakan diri.

Pastinya, jika Mama mendapatkan komplikasi kehamilan berikut ini, alangkah baiknya tidak berpuasa: perdarahan kehamilan, hipertensi, preeklamsia, muntah-muntah parah, diabetes, plasenta previa, riwayat gangguan nafsu makan (anoreksia atau bulimia), riwayat batu ginjal, gangguan sistem pencernaan, riwayat luaran persalinan jelek, riwayat persalinan prematur, kurang gizi, dan semua kondisi yang mengharuskan mamil minum obat sepanjang hari. Disamping itu, ibu hamil yang telah menginjak umur kehamilan di angka 9 bulan, juga dianjurkan untuk tidak melakukan puasa.

Penelitian yang dilakukan Prentice dkk. menyimpulkan, kadar gula darah ibu hamil pada trimester 3 yang menjalankan puasa Ramadan lebih rendah dibanding yang tidak. Itulah kenapa, pada waktu usia kehamilan sudah pada 9 bulan, Mama alangkah baiknya tidak melakukan puasa. Kadar gula darah Mama harus cukup karena akan berguna sebagai tenaga pada waktu akan melahirkan. Karena itulah, sebelum melakukan puasa, Mama diharuskan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter.

Jika setelah dilakukan pengecekan, Mama dinyatakan sehat serta dokter juga memberikan izin, maka silakan untuk melakukan puasa Ramadan. Namun ingat ya, Mam, jangan memaksakan diri. Apabila Mama mulai terasa tidak nyaman dan merasa badan kurang sehat, tidak apa untuk membatalkan puasa. Ingatlah, karena adanya si buah hati yang sedang dalam masa tumbuh dan berkembang di dalam rahim.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *